Bayangkan seorang pasien datang ke dokter bukan untuk diberi resep obat, melainkan diberi "resep" jalan-jalan ke luar negeri — dan biayanya ditanggung asuransi kesehatan negara. Terdengar seperti fiksi? Ini benar-benar terjadi, dan sudah berjalan puluhan tahun. Sejak era 1970-an, pasien psoriasis di Norwegia yang kondisinya cukup berat bisa "diresepkan" terbang ke Gran Canaria, Spanyol, untuk tiga minggu berjemur dan berendam air laut di bawah pengawasan program kesehatan publik. Bukan liburan biasa — ini climatotherapy, dan hasilnya diukur secara klinis lewat skor keparahan penyakit dan kualitas hidup pasien. Organisasi pasien di Swedia, Ung med Psoriasis, yang berdiri sejak 1983, juga rutin memberangkatkan anggota mudanya ke sana lewat seleksi dokter kulit berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Sejak obat biologik untuk psoriasis makin terjangkau, sebagian dana publik untuk program ini memang berkurang dan bergeser ke hibah swasta serta iuran peserta — bukan cerita sempurna tanpa tantangan, tapi modelnya nyata dan sudah teruji puluhan tahun.

Kalau "healing" ke pantai saja bisa jadi terapi resmi yang dibiayai asuransi, kenapa naik gunung — yang manfaat kesehatannya jauh lebih riset-backed — belum masuk radar yang sama?

Dunia Sudah Bergerak ke Sana

Ini bukan cuma soal psoriasis dan Gran Canaria. Banyak negara sudah lama menjadikan "aktivitas di alam terbuka" sebagai bagian resmi sistem kesehatan mereka:

  1. Selandia Baru, sejak 1997, dokter umum sudah bisa menuliskan Green Prescription — resep aktivitas fisik luar ruang — sebagai bagian layanan kesehatan primer nasional.
  2. Amerika Serikat menjalankan program Park Rx di hampir seluruh negara bagian (49 dari 50), tempat tenaga medis memberi rujukan tertulis resmi untuk beraktivitas di taman dan alam terbuka.
  3. Jerman, lewat sistem asuransi wajibnya (GKV), memberi warga hak hukum atas Vorsorgekur — kur kesehatan preventif di kurort resmi, termasuk terapi Kneipp — berdasarkan Pasal 23 Ayat 2 SGB V, dengan subsidi harian yang bisa diklaim setelah mendapat persetujuan dokter dan kas asuransi.
  4. Inggris menggelontorkan £5,77 juta pada 2020 untuk program green social prescribing nasional lewat NHS, dengan tujuh titik uji coba yang melayani lebih dari 8.500 pasien dalam dua tahun pertama; Skotlandia membangun Green Health Partnership di empat wilayah sejak 2018 agar dokter bisa merujuk pasien ke petugas kesehatan alam terbuka.
  5. Kanada punya program nasional PaRx, yang sejak 2020 telah merekrut lebih dari 18.000 tenaga kesehatan penulis resep dan menerbitkan lebih dari 1,5 juta resep aktivitas alam — dan baru-baru ini digandeng perusahaan asuransi raksasa Manulife sebagai mitra resmi, tanda sektor asuransi swasta pun mulai melihat ini sebagai model bisnis yang masuk akal, bukan sekadar gimmick.

Jadi ini bukan tren media sosial sesaat. Ini pergeseran nyata dalam cara dunia medis memandang alam terbuka: dari "hobi" menjadi "intervensi kesehatan yang bisa diresepkan".

Kenapa Mendaki Gunung Layak Duduk di Meja yang Sama

Secara ilmiah, mendaki punya bekal cukup kuat untuk disebut lebih dari sekadar rekreasi. Serangkaian riset yang melibatkan Martin Niedermeier dari University of Innsbruck menemukan kadar kortisol atau hormon stres turun lebih besar setelah hiking di gunung dibandingkan aktivitas serupa di dalam ruangan maupun kondisi diam. Tinjauan integratif terbaru menyimpulkan hiking di luar ruangan secara signifikan memperbaiki fungsi jantung, menurunkan risiko penyakit kronis, dan meningkatkan fungsi imun — bahkan merekomendasikan agar jalur pendakian dimasukkan ke perencanaan infrastruktur kesehatan nasional lewat konsep green social prescribing. Sementara itu, WHO merekomendasikan 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu untuk menurunkan risiko penyakit kronis secara signifikan — target minimalnya sudah bisa tercapai hanya dengan satu kali pendakian akhir pekan sekitar 2,5–3 jam.

Bedanya dengan jalan santai di taman kota: medan naik-turun gunung memaksa jantung bekerja lebih keras, sehingga potensi manfaat kardiovaskularnya pun lebih besar, ditambah efek psikologis dari ketinggian dan pemandangan yang membuat perasaan senang dan tenang meningkat begitu turun gunung.

Pasarnya Juga Sudah Jalan Duluan

Di luar ranah klinis, pasar sudah lebih dulu membaca arah yang sama. Pasar wisata petualangan global diperkirakan bernilai sekitar USD 20,6 miliar pada 2026 dan diproyeksikan tumbuh hingga USD 90,26 miliar pada 2035, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 18,6%. Di dalamnya, segmen wellness & rejuvenation — aktivitas yang menggabungkan gerak fisik, ketenangan mental, dan penyembuhan berbasis alam — diproyeksikan tumbuh paling cepat dibanding segmen wisata petualangan lain. Pasar wisata wellness secara keseluruhan bahkan sudah bernilai lebih dari USD 1 triliun pada 2026. Angka-angka ini menunjukkan permintaan nyata dari masyarakat yang sudah lebih dulu bergerak, jauh sebelum sistem kesehatan resmi ikut mengaturnya — dan sebagian permintaan itu justru datang dari negara-negara yang penduduknya tidak memiliki gunung sebanyak Indonesia.

Kalau dunia sudah menghitung aktivitas di alam terbuka sebagai investasi kesehatan yang layak diresepkan dan diasuransikan, Indonesia — negeri dengan ratusan gunung dan puluhan ribu jalur alam — sedang duduk di atas potensi kesehatan yang belum tersentuh sistem layanan primernya sendiri.

Posisi HIFDI

HIFDI mendukung dua hal dari tren global ini. Pertama, penguatan pendekatan preventif berbasis aktivitas fisik di alam terbuka sebagai bagian sah dari layanan kesehatan, bukan sekadar gaya hidup atau rekreasi pribadi. Bukti klinisnya sudah cukup kuat untuk didudukkan setara dengan intervensi preventif lain yang lebih dulu diakui, seperti skrining atau edukasi gizi. Kedua, posisi klinik pratama, TPMD, dan puskesmas sebagai pihak paling tepat menjadi gatekeeper rekomendasi semacam ini — karena merekalah kontak pertama pasien, yang paling memahami riwayat kesehatan dan risiko individual sebelum seseorang dianjurkan naik gunung atau beraktivitas berat di alam terbuka.

Yang masih perlu diperbaiki: Indonesia belum punya payung regulasi maupun pedoman klinis resmi untuk "resep aktivitas alam" semacam ini, dan BPJS Kesehatan belum memiliki skema promotif-preventif yang mengakomodasi rekomendasi seperti itu dalam kapitasi FKTP. Kalaupun kelak ada pembahasan ke arah sana, FKTP swasta — klinik pratama dan TPMD — wajib dilibatkan sejak tahap perumusan, bukan sekadar diminta menjalankan aturan yang dirancang tanpa masukan mereka, seperti yang berulang kali terjadi pada kebijakan-kebijakan sebelumnya.

Penutup

Naik gunung memang belum akan masuk ke dalam manfaat JKN dalam waktu dekat. Tapi bukti ilmiah dan preseden puluhan tahun dari negara lain cukup untuk membuka diskusi bahwa aktivitas fisik di alam terbuka layak dipertimbangkan sebagai bagian layanan preventif primer, bukan sekadar anjuran informal dokter di sela konsultasi. Langkah paling realistis untuk memulai bukan menunggu regulasi turun dari atas, melainkan dokter FKTP sendiri mulai membekali diri dengan literasi soal manfaat dan batas aman aktivitas alam ini — agar ketika sistem akhirnya menyusul, layanan primer Indonesia sudah lebih dulu siap menjalankannya.

Referensi
  • Tidsskrift for Den norske legeforening, "Three weeks in the sun" — climatotherapy pasien psoriasis Norwegia di Gran Canaria, 2020
  • BMC Primary Care, "General practitioners' views and experiences of counselling for physical activity through the New Zealand Green Prescription program", 2011
  • NHS England & National Academy for Social Prescribing, dokumentasi program Green Social Prescribing 2020–2023
  • Insurance Business Canada, "Manulife becomes first insurer to support Canada's national nature prescription program", 2026
  • World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour", 2020