Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa teknologi TBScreen.AI mampu meningkatkan efisiensi skrining tuberkulosis (TB), sebagaimana diberitakan ANTARA pada 3 Agustus 2026. Inovasi berupa kecerdasan buatan pembaca foto rontgen ini dikembangkan oleh peneliti dalam negeri, dengan klaim mampu membaca rontgen untuk skrining TBC dalam waktu kurang dari lima detik. Bagi HIFDI, kabar ini menggembirakan — sekaligus menjadi pengingat bahwa teknologi hanya bermakna bila sampai ke titik layanan pertama tempat pasien datang.
Deteksi Dini: Kunci Pengendalian TB
Tuberkulosis masih menjadi beban kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Skrining yang cepat dan akurat adalah kunci agar kasus ditemukan lebih awal, penularan diputus, dan pengobatan dimulai sebelum penyakit memburuk. Dalam konteks ini, kecerdasan buatan yang mampu membaca rontgen dalam hitungan detik berpotensi mempercepat proses skrining secara signifikan — mengurangi antrean, memangkas waktu tunggu, dan menekan beban tenaga kesehatan yang selama ini membaca hasil rontgen secara manual.
Namun, percepatan teknologi tidak otomatis berarti pemerataan layanan. Pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat teknologi ini bekerja, tetapi siapa yang akan mengaksesnya.
FKTP: Garda Depan yang Sering Terlewat
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) — klinik pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter (TPMD), dan puskesmas — adalah titik kontak pertama sebagian besar masyarakat dengan sistem kesehatan. Idealnya, skrining TB berjalan paling masif justru di sini. Namun, pola yang selama ini terjadi hampir selalu sama: inovasi dan penguatan teknologi mengalir ke rumah sakit dan fasyankes milik pemerintah, sementara FKTP swasta dibebani standar pelayanan yang sama tanpa dukungan yang setara — termasuk dalam hal pembaruan alat dan teknologi.
Teknologi skrining yang secepat apa pun tidak akan mengubah apa pun jika tidak sampai ke titik layanan pertama tempat pasien datang.
Posisi HIFDI
Sebagai himpunan yang menaungi penyedia layanan primer, HIFDI menyambut baik inovasi TBScreen.AI sebagai penguatan mutu deteksi dini TB. Namun, adopsi teknologi ini harus dievaluasi dan diarahkan secara adil:
- HIFDI mendukung pemanfaatan AI untuk skrining TB di layanan primer, termasuk di FKTP swasta — bukan hanya di rumah sakit atau puskesmas milik pemerintah.
- HIFDI menuntut kejelasan skema pendanaan dan akses: siapa yang membiayai lisensi, perangkat, dan pemeliharaan teknologi ini di FKTP? Tanpa instrumen fiskal yang berpihak, inovasi berisiko menambah beban baru bagi FKTP swasta.
- HIFDI merekomendasikan integrasi hasil skrining dengan SATUSEHAT dan jejaring rujukan TB nasional, disertai pelatihan tenaga kesehatan FKTP serta evaluasi berbasis bukti sebelum teknologi diperluas secara nasional.
Penutup
Kecepatan inovasi tanpa pemerataan hanya akan melebarkan jurang antara fasyankes yang didukung dan yang ditinggalkan. HIFDI siap bermitra dengan pemerintah dan pengembang teknologi untuk memastikan deteksi dini TB yang lebih cepat benar-benar menjangkau masyarakat di layanan primer.