Kecelakaan di lingkungan sekolah tidak selalu berakhir ringan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 684.000 kematian akibat jatuh setiap tahun di dunia, menjadikan jatuh penyebab kematian kedua terbesar akibat cedera yang tidak disengaja, dan lebih dari 80 persennya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Kasus nyata terus berulang: siswi SMA di Pariaman meninggal pada Agustus 2026 setelah kursinya ditarik teman saat hendak duduk, dan sebelumnya kasus serupa menimpa siswi di Pamekasan (2019). Jatuh yang tampak sepele bisa mencederai tulang belakang, melukai sumsum, hingga mengancam nyawa.

Risiko serupa juga mengintai pada henti jantung mendadak. American Heart Association mencatat sekitar 350.000 kasus henti jantung di luar rumah sakit setiap tahun di Amerika Serikat, dan hanya sekitar 40 persen yang mendapat resusitasi dari orang di sekitarnya. Di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat lebih dari satu juta orang terdiagnosis penyakit jantung. Pertolongan pertama dari saksi di lokasi terbukti menggandakan hingga melipatgandakan peluang korban bertahan hidup.

Langkah BHD yang Bisa Dipelajari Siapa Saja

Penguasaan Bantuan Hidup Dasar (BHD) tidak menuntut alat canggih, cukup langkah yang teratur: pastikan lingkungan aman dan cek kesadaran korban, minta seseorang menghubungi layanan darurat 119, lalu mulai kompresi dada di tengah dada dengan kecepatan 100-120 kali per menit dan kedalaman 5-6 cm. Jika terlatih, buka jalan napas dan beri napas bantuan dengan rasio 30 kompresi berbanding 2 napas; jika tidak yakin, kompresi dada saja (hands-only CPR) tetap jauh lebih baik daripada tidak menolong sama sekali. Lanjutkan hingga bantuan profesional tiba atau alat AED tersedia.

Edukasi dan Pelatihan yang Menarik dan Sesuai Konteks

BHD paling efektif dipelajari lewat pelatihan yang melibatkan praktik langsung: latihan kompresi dada pada manekin, simulasi kecelakaan di kelas atau lapangan yang diperagakan bergiliran, dan skenario sederhana seperti membantu teman yang jatuh. Metode praktik langsung jauh lebih menarik bagi siswa dan lebih mudah diingat daripada ceramah. Sekolah dapat mengintegrasikannya ke ekstrakurikuler PMR, pelajaran olahraga, atau kegiatan rutin tanggap darurat, dengan skenario yang dekat dengan keseharian anak di sekolah.

Awareness bagi Seluruh Warga Sekolah

Tarik kursi dan lelucon fisik serupa sering dianggap candaan, padahal risikonya cedera tulang belakang yang permanen atau fatal. Kesadaran seluruh warga sekolah menjadi kunci: siswa berani menolak dan melapor lelucon berbahaya; guru dan staf terlatih mengenali tanda bahaya dan menangani korban jatuh tanpa menggerakkannya; sekolah menetapkan aturan tegas dan prosedur darurat yang jelas. Bila terjadi jatuh dengan nyeri punggung, leher, atau rasa kebas, korban segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan radiologi, bukan ke tukang pijat.

Disampaikan dr. Putro S. Muhammad, MH, CIHL:

Bantuan Hidup Dasar adalah keterampilan yang bisa dipelajari siapa saja dan bisa menentukan hidup-mati seseorang sebelum tenaga medis tiba. Saya mengajak setiap keluarga memastikan minimal satu anggotanya menguasai BHD, dan fasyankes menjadikan pelatihan ini bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Penutup

Menguasai BHD berarti siap menolong di menit yang paling menentukan. Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) adalah organisasi yang mewadahi ekosistem fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia, dari klinik pratama, tempat praktik mandiri dokter, hingga puskesmas, dan hadir sebagai mitra strategis penguatan layanan kesehatan di lini depan. HIFDI mendorong fasyankes dan sekolah berkolaborasi memperluas pelatihan BHD yang menarik dan sesuai konteks, karena rantai pertolongan yang kuat dimulai dari tangan orang pertama di tempat kejadian.

Referensi