Bayangkan seorang ibu hamil di rumah sederhana beratap seng. Malam semakin larut, tetapi udara tak kunjung sejuk. Keringat membasahi tubuhnya. Air bersih semakin sulit diperoleh, sementara harga telur, ikan, dan bahan pangan bergizi terus meningkat. Perlahan, ia mengusap perutnya. Di dalam sana, ada jantung kecil yang berdetak, otak yang sedang berkembang, dan kehidupan yang sedang menunggu waktunya mengenal dunia.

Ibu itu mungkin tidak memahami istilah perubahan iklim, emisi karbon, atau pemanasan global. Ia hanya tahu bahwa udara semakin panas, makanan semakin mahal, dan menjaga kehamilannya terasa semakin berat. Ia tidak meminta kemewahan. Ia hanya ingin anaknya lahir sehat. Namun, bagaimana jika lingkungan tempat seorang ibu mengandung justru menjadi ancaman bagi kehidupan yang sedang ia perjuangkan?

Krisis Iklim, Ketidakadilan yang Tak Terlihat

Perubahan iklim tidak pernah benar-benar memperlakukan semua orang secara setara. Bagi keluarga mampu, udara panas dapat diatasi dengan pendingin ruangan. Bagi keluarga miskin, panas dapat berarti kehilangan waktu istirahat, dehidrasi, dan risiko gangguan kesehatan. Ketika kekeringan merusak panen, sebagian keluarga menghadapi kenaikan pengeluaran, sementara keluarga lainnya terpaksa mengurangi makanan di piring anak.

World Health Organization (WHO) mencatat 3,6 miliar orang hidup di kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan kematian akibat panas pada kelompok usia di atas 65 tahun naik 70 persen dalam dua dekade.

Banjir, kebakaran hutan, polusi udara, dan kerawanan pangan semakin memperberat kehidupan mereka yang sudah rentan: ibu hamil, bayi, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, penderita penyakit kronis, serta masyarakat terpencil.

Ironisnya, mereka yang paling sedikit memiliki sumber daya untuk menghadapi krisis sering kali justru menanggung dampaknya paling berat. Inilah ketidakadilan iklim yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang kerusakan lingkungan, melainkan tentang hilangnya kesempatan seseorang untuk hidup sehat dan bermartabat.

Ketika Ancaman Dimulai dari Dalam Kandungan

Seorang bayi belum pernah menghirup udara tercemar atau merasakan panas matahari. Namun, dampak lingkungan dapat mulai memengaruhinya sejak dalam kandungan.

Selama kehamilan, tubuh ibu bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan janin. Paparan panas ekstrem dapat mengganggu keseimbangan cairan dan meningkatkan tekanan fisiologis. Sementara itu, polusi udara, terutama partikel halus PM2.5, dapat memicu stres oksidatif dan peradangan yang berpotensi mengganggu fungsi plasenta.

Tinjauan sistematis Bekkar dan kolega (2020), yang mencakup penelitian terhadap lebih dari 32 juta kelahiran di Amerika Serikat, menunjukkan adanya hubungan antara paparan panas maupun polusi udara tertentu dengan peningkatan risiko persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan lahir mati.

Di sisi lain, kekeringan, gagal panen, dan meningkatnya harga pangan dapat mengurangi akses ibu serta anak terhadap makanan bergizi. Kondisi ini berpotensi memperburuk anemia, kekurangan gizi, dan berbagai faktor risiko gangguan pertumbuhan anak.

Konteks Indonesia memperlihatkan kerentanan yang sama. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 27,7 persen ibu hamil mengalami anemia dan 16,9 persen berisiko kurang energi kronik, sementara hanya 44,2 persen ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah sesuai rekomendasi.

Kita berbicara tentang pencegahan stunting, peningkatan kualitas 1.000 Hari Pertama Kehidupan, dan pembangunan generasi emas. Namun, bagaimana generasi itu dapat tumbuh optimal jika sejak dalam kandungan sebagian dari mereka sudah menghadapi risiko lingkungan yang sebenarnya dapat dikurangi?

Tidak seorang pun anak seharusnya kehilangan kesempatan untuk tumbuh sehat, bahkan sebelum menghirup napas pertamanya, hanya karena udara yang dihirup ibunya, lingkungan tempat ia dilahirkan, atau kemiskinan yang membatasi harapan keluarganya.

Dokter Harus Hadir Sebelum Krisis Menjadi Penyakit

Di sinilah pelayanan kesehatan membutuhkan perspektif baru. Dokter tidak cukup hanya mengobati dehidrasi, menangani gangguan pernapasan, atau merawat komplikasi kehamilan. Kita juga perlu mengenali kondisi lingkungan dan sosial yang menempatkan pasien dalam risiko.

Di tengah ancaman perubahan iklim, fasilitas kesehatan primer harus menjadi garda terdepan yang tidak hanya mengobati, tetapi juga melindungi kehidupan. Melalui peran strategis Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), perlindungan kelompok rentan dapat diperkuat melalui deteksi dini risiko panas ekstrem dan polusi udara, pemantauan kesehatan serta gizi ibu dan anak, edukasi yang berpihak pada kondisi nyata keluarga, dan kesiapsiagaan layanan saat bencana melanda. Sebab, pelayanan kesehatan yang sesungguhnya bukan hanya hadir ketika seseorang jatuh sakit, tetapi juga berupaya memastikan mereka yang paling rentan tidak kehilangan kesempatan untuk tetap sehat.

Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi tindakan kesehatan. Sistem peringatan dini harus menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Pelayanan tidak boleh terputus hanya karena banjir, kekeringan, atau akses transportasi terganggu.

WHO juga mengingatkan bahwa panas ekstrem dapat mengganggu layanan kesehatan esensial, mulai dari pasokan listrik sampai transportasi.

Namun, kepedulian tidak boleh berhenti pada nasihat agar masyarakat minum cukup air, menghindari panas, atau mengonsumsi makanan bergizi. Bagaimana mereka dapat melakukannya jika air bersih langka, pekerjaan menuntut mereka berada di bawah terik matahari, dan penghasilan tidak cukup untuk membeli makanan sehat?

Kita tidak boleh membebankan seluruh tanggung jawab perlindungan kesehatan kepada mereka yang bahkan tidak memiliki cukup pilihan untuk melindungi dirinya sendiri. Perlindungan kesehatan membutuhkan kerja bersama: dokter, fasilitas kesehatan, pemerintah, organisasi profesi, dunia usaha, dan masyarakat. Menjaga lingkungan, ketahanan pangan, air bersih, dan pelayanan kesehatan adalah bagian dari tanggung jawab yang sama.

Jangan Wariskan Krisis kepada Mereka yang Belum Sempat Memilih

Mari kembali kepada ibu hamil di rumah beratap seng tadi. Ketika mengusap perutnya, ia mungkin sedang membayangkan wajah anak yang akan dilahirkannya. Ia berharap bayinya sehat, tumbuh cerdas, dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Harapan itu sederhana. Namun, bagi sebagian keluarga, mewujudkannya semakin sulit. Anak-anak tidak pernah memilih dilahirkan di tengah krisis iklim. Mereka tidak menciptakan polusi, tidak menentukan kebijakan lingkungan, dan tidak memiliki suara untuk memperjuangkan perlindungannya sendiri. Tetapi merekalah yang mungkin harus menanggung akibatnya paling lama.

Suatu hari, generasi yang hari ini masih berada dalam kandungan akan tumbuh dan mungkin bertanya: “Ketika bumi semakin panas dan masa depan kami terancam, apa yang telah kalian lakukan untuk melindungi kami?”

Semoga jawaban kita bukan penyesalan, melainkan bukti bahwa kita pernah memilih untuk peduli dan bertindak. Sebab, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa tinggi bangunan yang didirikan atau seberapa cepat ekonomi bertumbuh, tetapi juga dari kemampuannya melindungi mereka yang paling rentan.

Melindungi bumi adalah tanggung jawab kita terhadap alam. Melindungi ibu dan anak dari dampak perubahan iklim adalah tanggung jawab kita terhadap kehidupan, termasuk kehidupan yang belum dilahirkan.

Sebab, setiap ibu berhak menjalani kehamilan dengan aman, setiap anak berhak mengawali kehidupan dengan sehat, dan tak seorang pun seharusnya dibiarkan berjuang sendirian menghadapi krisis yang tidak mereka ciptakan.

Karena warisan paling berharga bagi generasi mendatang bukan sekadar bumi yang dapat dihuni, melainkan bumi yang memungkinkan setiap kehidupan tumbuh sehat, aman, dan penuh harapan.

Catatan redaksi: paragraf data Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan data WHO ditambahkan redaksi Berita HIFDI. Naskah penulis tidak diubah.

Referensi